Dinas Tanaman Pangan Hortikultura
Dan Perkebunan Provinsi Bengkulu
Informasi / Berita/Artikel

BIBIT KELAPA SAWIT BEBAS PENYAKIT

  Oct 25, 2018     Admin Dis TPHP Bengkulu  

Oleh : Sutowo, SST

PENDAHULUAN

Salah satu kunci awal budidaya kelapa sawit adalah mendapatkan bibit kelapa sawit dengan kualitas unggul, baik asal maupun pertumbuhannya. Salah satu kendala yang sering dialami di pembibitan kelapa sawit adalah munculnya penyakit bercak daun dan antraknosa. Kedua Penyakit ini sering muncul bersamaan di pembibitan kelapa sawit. Apabila tidak ditangani secara cepat, penyakit ini dapat menyebabkan kematian bibit kelapa sawit.

GEJALA PENYAKIT

Gejala penyakit bercak daun adalah adanya bercak bulat kecil yang tampak pada kedua permukaan daun. Bercak kemudian membesar dan berubah menjadi coklat terang dan lubang berbentuk ditengahnya dengan ukuran 7-8 mm. Bercak ini kemudian semakin coklat tua dan terdapat halo kuning pucat. Pada lubang bercak daun yang telah tua terbentuk lingkaran konsentris dua buah. Jika serangan berat, daun termuda dan daun tertua akan menggulung, kering dan rapuh. Gejala lanjutan daun-daun bibit kelapa sawit mengering dan kemudian tanaman mengalami kematian. Sedangkan penyakit antraknosa biasanya bergejala membusuknya daun secara kering yang dimulai dari tepi daun dan berkembang melebar ke tengah dan selanjutnya mengakibatkan kematian tanaman.

PENYEBAB PENYAKIT

Penyakit bercak daun disebabkan oleh jamur culvuria sp, sedangkan penyakit antraknosa disebabkan oleh tiga jenis jamur yaitu Botryodiplodia sp, Glomerella cingulata dan Melanconium elaeidis.

EPIDEMI PENYAKIT

Penyakit ini muncul karena ketidaktepatan penerapan kultur teknis pembibitan kelapa sawit yang berpengaruh pada penambahan kelembaban lingkungan dan suhu yang sesuai bagi infeksi maupun perkembangan jamur patogen. Seringkali penyebab utama penyakit ini adalah terlambatnya pemindahan bibit dari pre nursery ke main nursery. Tajuk bibit yang telah saling tumpang tindih akan menyebabkan suhu dan kelembaban disekitar tanaman sangat sesuai bagi proses pantogen disamping daun tanaman yang masih muda dan lunak untuk ditembus miselium jamur.

Pada musim penghujan, intensitas penyakit ini menjadi lebih tinggi. Tanaman yang lemah akibat unsur hara atau akibat kekurangan unsur hara atau akibat transplanting shock dapat lebih mudah terserang penyakit ini. Penyiraman dan pemupukan yang tepat sangat mempengaruhi perkembangan penyakit ini.

PENCEGAHAN PENYAKIT

Penyakit bercak daun dan antraknose dapat dicegah dengan tindakan sebagai berikut :

  • Lokasi pembibitan agak jauh
  • Pumupukan dilakukan dengan tepat
  • Penyiraman dengan voleme yang tepat
  • Penyiraman diusahakan tidak mengenai daun dan menggunakan sumber air yang mengalir
  • Pengendalian gulma dilakukan dengan baik
  • Pindah tanam dari PN ke MN harus tepat waktu
  • Sensus terus dilakukan

PENGENDALIAN PENYAKIT

Apabila pembibitan sudah terjangkit penyakit bercak daun ataupun antraknose dapat dilakukan sebagai berikut :

  • Sanitasi sumber inokolum penyakit bercak daun dengan cara memotong daun yang menunjukkan gejala serangan penyakit ringan sampai sedang. Pemotongan dilakukan hingga tidak ada gejala penyakit pada permukaan daun bibit. Tanaman dengan gejala penyakit bercak daun berat harus dimusnahkan dengan cara dicabut dari polybag dan tanaman dibakar pada lokasi yang berjauhan. Pemusnahan dilakukan bersamaan dengan pembakaran potongan daun bibit-bibit dengan gejala serangan ringan sampai sedang.
  • Pengelompokan bibit berdasarkan tinggi dan itensitas serangan penyakit bercak daun harus dilakukan. Pengelompokan dilaksanakan dengan mengumpulkan bibit-bibit yang berukuran sama pada suhu area. Bibit yang terserang penyakit bercak daun dengan itensitas ringan sampai sedang dan telah dilakukan sanitasi hendaknya dipindahkan (diisolasi) pada area terpisah. Untuk menekan penyebaran sumber inokolum. Area isolasi diberi pembatas plastik yang membatasi area lokasi isolasi dengan dengan area pemukiman pekerja.
  • Semua bibit harus diaplikasi fungisida dengan bahan aktif berbeda dari yang selama ini digunakan, semisal dengan menggunakan fungisida atau tembaga oksida yang diaplikasikan secara bergantian (berotasi) antar fungisida dengan frekuensi 7 sampai 10 hari dengan konsentrasi 0,2 – 0,4 % (ml atau gram/ltr). Dosis aplikasi fungisida yang disarankan adalah 1 tangki (15 ltr) untuk 500 tanaman dengan tetap menggunakan tambahan perekat. Aplikasi fungisida tetap dilaksanakan hingga gejala serangan penyakit bercak daun menjadi sedikit dan bibit dikategorikan sehat.
  • Pengendalian gulma harus tetap dilaksanakan bebarengan dengan kegiatan sanitasi dan isolasi bibit terserang penyakit mengingat gulma dapat menjadi inang alternatif bagi jamur penyebab penyakit bercak daun.

 Sumber : Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan Sumatera   Utara Tahun 2017

Tentang Kami

Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu merupakan OPD dilingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Bengkulu...
Baca selengkapnya

Follow Us

Alamat

Jl. Pembangunan No. 19, Pd Harapan - Kota Bengkulu 38223
Telp: Telp. (0736) 21410-21721
Fax: (0736) 21017
Email: dtphp.bengkuluprov@gmail.com