Dinas Tanaman Pangan Hortikultura
Dan Perkebunan Provinsi Bengkulu
Informasi / Berita/Artikel

KONSERVASI KEBUN DENGAN PEMBUATAN RORAK

  Nov 23, 2016     Admin Dis TPHP Bengkulu  

Disusun Oleh :

Trijono, SP. M.Si.

Provinsi Bengkulu memiliki luas 1.978.870 ha merupakan daerah yang memiliki Sumber Daya Alam dengan topografi perbukitan, berdasarkan data statistik dqerqh pada ketinggian 0 – 100 diatas permukaan laut (dpl) seluas 798,435 ha (35,8%), ketingian 100 – 500 metr dpl seluas 625.323 ha (31,6%) ketinggian 500 – 100 meter dpl seluas 405.688 ha (20,5%). daerah yang memiliki Sumber Daya Alam perbukitan, hal ini dikarenakan letak geografis yang berada disepanjang bukit barisan yang membentang di Pulau Sumatra, kondisi wilayah yang memiliki banyak perbukitan jika tidak dilakukan konservasi tanah dengan baik maka akan terjadi erosi tanah yang pada akhirnya lapisan tanah atas akan terbawa air kebawah atau kesungai sehingga top soil tanah akan hilang dan pada akirnya tanah akan gersang. .

Pembangunan pertanian yang berwawasan lingkungan adalah merupakan upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumberdaya secara secara arif dan bijaksana untuk meningkatkan hasil produksi dan sekaligus menjaga kelestarian lahan dan air.

Kebutuhan manusia akan tanah dan air semakin meningkat dari waktu ke waktu. Bukan saja diakibatkan karena pertambahan penduduk, tetapi juga karena meningkatnya intensitas (jumlah) dan ragam kebutuhannya, padahal ketersediaan tanah dan air sangat terbatas.

Usaha peningkatan produksi hasil pertanian selalu tidak dapat mengimbangi kecepatan pertumbuhan penduduk. Hal ini antara lain karena kondisi tanah dan air sebagai sumber daya alam pada umumnya sudah mengalami penurunan produktivitasnya sedemikian rupa sehingga memerlukan usaha konservasi.

Usahatani konservasi tanah dan air ini penting karena di berbagai daerah telah terjadi kerusakan lahan yang berakibat menurunkan tingkat produktivitas tanah dan kualitas air, terutama karena erosi dan aliran permukaan (run off).

Berbagai contoh bencana alam yang terjadi atau yang kita dengar dan lihat selama ini, salah satu faktor utamanya adalah akibat erosi dan sedimentasi, misalnya : banjir, kekeringan, tanah longsor dan lain-lain sering terjadi di beberpa daerah di Indonesia. Hal ini disebabkan antara lain karena pengolahan tanah dan air tidak/ kurang memperhatikan dan menerapkan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air.

Untuk mengatasi hal-hal tersebut diatas, maka sangat dirasakan pentingnya dilakukan pembinaan terhadap masyarakat tani, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam melakukan usaha tani konservasi tanah dan air khususnya dalam pembuatan Rorak.

Usahatani tanaman perkebunan pada lahan berlerang perlu adanya upaya pembuatan rorak dalam menanggulangi bahaya erosi dan memanfaatkan rorak sebagai media penampungan bahan organic seperti seresah, kulit buah  dan yang lain yang diharapkan menjadi sumber pupuk organik yang murah dalam menghadapi mahalnya pupuk konvensional, baik pupuk organik maupun anorganik buatan pabrik. Rorak dianjurkan dibuat pada lahan berkemiringan antara 3 % sampai dengan 30 %.

Tujuan pembuatan rorak adalah :

  1. Untuk mencegah disposisi/transportasi partikel tanah oleh erosi dan aliran permukaan ( run off)
  2. Menampung air hujan yang jatuh dan aliran permukaan dari bagian atas, serta partikel tanah yang tererosi dari bagian atasnya.
  3. Untuk menampung bahan organik, sisa-sisa tanaman sebagai sumber unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman di sekitarnya.

Rorak merupakan lubang penampungan atau peresapan air, dibuat di bidang olah atau saluran resapan  Pembuatan rorak bertujuan untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah dan menampung tanah yang tererosi. Pada lahan kering beriklim kering, rorak berfungsi sebagai tempat pemanen air hujan dan aliran permukaan.

Dimensi rorak yang disarankan sangat bervariasi, misalnya kedalaman 60 cm, lebar 50 cm, dan panjang berkisar antara 50-200 cm. Panjang rorak dibuat sejajar kontur atau memotong lereng. Jarak ke samping antara satu rorak dengan rorak lainnya berkisar 100-150 cm, sedangkan jarak horizontal 20 m pada lereng yang landai dan agak miring sampai 10 m pada lereng yang lebih curam. Dimensi rorak yang akan dipilih disesuaikan dengan kapasitas air atau sedimen dan bahan-bahan terangkut lainnya yang akan ditampung.

Sesudah periode waktu tertentu, rorak akan terisi oleh tanah atau serasah tanaman. Agar rorak dapat berfungsi secara terus-menerus, bahan-bahan yang masuk ke rorak perlu diangkat ke luar atau dibuat rorak yang baru.

Kemiringan Lahan

Kemiringan lahan adalah besaran yang dinyatakan dalam derajat / persen (%) yang menunjukkan sudut yang dibentuk oleh perbedaan tinggi tempat . Kemiringan lahan dapat digolongkan dalam 7 (tujuh) golongan sebagai berikut:

  1. Datar : kemringan lahan antara 0 – 3%
  2. Landai/ berombak : kemiringan lahan antara 3 – 8%
  3. Bergelombang : kemiringan lahan antara 8 – 15%
  4. Berbukit : kemiringan lahan antara 15 – 30%
  5. Agak Curam : kemiringan lahan antara 30 – 45%
  6. Curam : kemiringan lahan antara 45 – 65%
  7. Sangat Curam : kemiringan lahan antara > 65%

Kegiatan pembuatan rorak/saluran buntu diarahkan pada lahan-lahan yang memiliki potensi penurunan daya dukung lahan terutama pada lahan-lahan kering yang peka terhadap erosi dalam upaya penerapan azas konservasi tanah dan air untuk pengembangan pertanian.

Standar teknis pembangunan rorak/saluran buntu dalam upaya konservasi tanah dan air adalah sebagai berikut :

  1. Lahan berupa lahan kering/upland dalam satu hektar dibangun konstruksi rorak sebanyak 30 unit.
  2. Panjang rorak/saluran buntu 5 meter, lebar 0,30 meter dan kedalaman 0,4 meter.
  3. Kemiringan lahan 3 % s/d 30%. Untuk menjamin keberhasilan sebaiknya dipilih lahan yang tidak terlalu curam sehingga tidak diperlukan adanya pembangunan teras bangku yang relatif mahal.
  4. Ketinggian tempat lebih rendah dari 1.500 meter di atas permukaan laut dimana berbagai jenis tanaman masih memungkinkan untuk diusahakan.
  5. Lahan peka terhadap erosi.
  6. Lahan masih diusahakan oleh petani, tetapi produktivitasnya telah mengalami degradasi/menurun.

Gambar  Penampang melintang rorak (got buntu)

Rorak berfungsi sebagai media penyerapan air, yakni air hujan akan ditampung dalam kubangan dan secara pelan akan diserap. Sedangkan lahan tanpa rorak, air hujan tidak terserap maksimal dan banyak yang terbuang, dan acapkali membawa material organik yang subur. Parahnya lagi aliran permukaan yang melebihi daya dukung lingkungan, akan berakibat erosi lahan. Rorak akan menjadi tempat penampungan air, menyerap dan menyimpannya, sehingga kuantitas air tanah bisa ditingkatkan.

Menjadi habitat fauna tanah dan jasad renik. Gulma hasil penyiangan, daun hasil pangkasan akan di dekomposisi atau dihancurkan oleh mahluk-mahluk penghuni tanah. Lebih kompleks lagi, material organik tersebut akan diuraikan menjadi pupuk yang subur dan bermanfaat bagi tumbuhan. Adanya fauna tanah dan jasad renik menjadi indikator tanah yang sehat, sebab tanah tersebut kaya akan makanan.

Rorak yang telah penuh dengan sampah tumbuhan, kemudian di timbun lalu berpindah dengan membuat lubang di sekitarnya. Artinya sampah yang membusuk akan menjadi humus, material yang subur berupa kompos. Nah jika tanah sudah subur, maka tak perlu dilakukan pemupukan, sehingga hemat. Tanah juga akan meningkat tingkat kesuburannya, sehingga kwalitas tanah semakin membaik.

Membuat rorak adalah sebuah langkah kecil dan sederhana, tetapi memiliki manfaat sangat besar, bayangkan saja, berapa banyak air yang terserap dan disimpan, berapa banyak mahluk hidup yang tinggal, berapa besar material organik yang baik untuk tanaman. Tanpa disadari, langkah kecil tersebut akan semakin bermakna bagi lingkungan jika diterapkan banyak orang. Lahan tak subur, lahan kritis, kekurangan air, banjir, erosi, kelangkaan pupuk, bingung buang sampah organik, hanya menjadi masa lalu jika kita benar-benar mau bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dimulai dari halaman, kebun, ladang baru ke lahan yang lebih luas. Langkah kecil kita adalah lompatan besar bagi lingkungan.

Tentang Kami

Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu merupakan OPD dilingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Bengkulu...
Baca selengkapnya

Follow Us

Alamat

Jl. Pembangunan No. 19, Pd Harapan - Kota Bengkulu 38223
Telp: Telp. (0736) 21410-21721
Fax: (0736) 21017
Email: dtphp.bengkuluprov@gmail.com