Dinas Tanaman Pangan Hortikultura
Dan Perkebunan Provinsi Bengkulu
Informasi / Berita/Artikel

Pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang Pada Tanaman Kelapa Sawit Dengan Menggunakan Agensia Hayati Trichoderma sp

  Nov 23, 2016     Admin Dis TPHP Bengkulu  

Disusun Oleh :

Trijono, SP. M.Si.

 

Penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) kelapa sawit pertama kali ditemukan pada tahun 1915 di Zaire (Kongo), penyakit BPB dilaporkan menyerang kelapa sawit di Malaysia pada tanaman berumur 25 tahun dan pada awalnya penyakit PBP dianggap tidak penting secara ekonomi. Tidak lama kemudian dilaporkan juga menyerang kelapa sawit di Indonesia.

Di kedua negara ini kelapa sawit dibudidayakan secara besar-besaran serta iklimnya cocok bagi perkembangan Ganoderma, sehingga perkembangan penyakit BPB menjadi sangat pesat. Penyakit BPB juga muncul secara merata baik di tanah daerah pantai maupun tanah di daerah pedalaman.

Penelitian mengenai dampak jamur Ganoderma Boninense pp di perkebunan sawit sebenarnya telah dimulai dari 20 tahun  yang lalu.  Meski demikian, tidak semua kesadaran pelaku sawit paham ekses buruk serangan ganoderma atau jamur merah Hal ini disebabkan, belum semua perkebunan kelapa sawit di Indonesia terjangkit ganoderma. Baru, perkebunan kelapa sawit yang telah memasuki generasi pertama.

Darmono Taniwiryono, Kepala Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, mengakui tidak semua pelaku sawit memandang masalah serangan ganoderma merupakan hal penting. Sikap ini dapat dimaklumi karena perkebunannya masih aman dari  ganoderma. “Ibaratnya, masih dapat tidur nyenyak lantaran penularan ganoderma belum terjadi,” ujarnya.


Di Indonesia, jenis ganoderma yang banyak menyerang perkebunan  sawit adalah ganoderma boninese. Selain itu, ditemukan pula ganoderma australe dan ganoderma zonatum yang berada di perkebunan sawit lahan gambut. Jamur yang berasal dari alam ini menjadi penyebab tanaman sawit terkena penyakit busuk pangkal batang. Bagi pelaku sawit, gejala tanaman yang terjangkit cendawan ini sulit diketahui perkembangannya secara langsung tetapi tiba-tiba saja pangkal batang atau korteks pohon sudah keropos.

Awalnya, penyakit Ganoderma diduga menyerang tanaman menghasilkan saja, dan secara ekonomi tidak berbahaya dengan kejadian penyakitnya pada tanaman tersebut yaitu di bawah satu persen. Satu persen kehilangan hasil pada tanaman dapat dikompensasi dengan tanaman sehat di sekitarnya yang menyerap lebih banyak sinar matahari. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, Ganoderma telah menjadi salah satu masalah paling serius dalam budidaya kelapa sawit terutama pada satu atau lebih dari dua generasi tanam. Selain itu, Ganoderma saat ini menjadi masalah serius pada kelapa sawit.


Penyakit busuk pangkal batang merupakan penyakit penting yang menyebabkan kehilangan hasil secara luas pada perkebunan kelapa sawit (Semangun, 1990; Treu, 1998; Susanto, 2009), terutama di Indonesia dan Malaysia (Turner, 1981; Darmono, 1998). Di beberapa perkebunan di Indonesia, penyakit ini telah menyebabkan kematian kelapa sawit hingga 80% atau lebih dari populasi kelapa sawit, dan hal tersebut menyebabkan penurunan produk kelapa sawit per satuan luas (Susanto, 2002; Susanto et al., 2002).


Ada dua macam kerugian yang disebabkan oleh Ganoderma, kerugian langsung dan tidak langsung. Kerugian langsung berhubungan dengan produksi yang rendah karena kematian tanaman, sedangkan kerugian tidak langsung berhubungan dengan penurunan berat buah dari buah kelapa sawit. Ganoderma yang menyerang tanaman membuat berat batang tanaman menjadi berkurang yang pada akhirnya membuat tanaman menjadi tidak berbuah.

GEJALA DAN TANDA PENYAKIT

Gejala awal penyakit sulit dideteksi karena perkembangannya yang lambat dan dikarenakan gejala eksternal berbeda dengan gejala internal. Sangat mudah untuk mengidentifikasi gejala di tanaman dewasa atau saat telah membentuk tubuh buah, konsekuensinya, penyakit jadi lebih sulit dikendalikan. Gejala utama penyakit Ganoderma adalah terhambatnya pertumbuhan, warna daun menjadi hijau pucat dan busuk pada batang tanaman. Pada tanaman belum menghasilkan, gejala awal ditandai dengan penguningan tanaman atau daun terbawah diikuti dengan nekrosis yang menyebar ke seluruh daun. Pada tanaman dewasa, semua pelepah menjadi pucat, semua daun dan pelepah mengering, daun tombak tidak membuka (terjadinya akumulasi daun tombak) dan suatu saat tanaman akan mati (Purba, 1993


Saat gejala pada tajuk muncul, biasanya setengah dari jaringan didalam pangkal batang sudah mati oleh Ganoderma. Sebagai tambahan, gejala internal ditandai dengan busuk pangkal batang muncul. Dalam jaringan yang busuk, luka terlihat dari area berwarna coklat muda diikuti dengan area gelap seperti bayangan pita, yang umumnya disebut zonareaksi (Semangun,1990).


Tidak hanya di tanah mineral, di tanah gambut perkembangan penyakit Ganoderma juga lebih cepat. Laju infeksi yang lebih cepat ini diduga akibat peran mekanisme lain penyebaran Ganoderma yang melalui basidiospora (Sanderson, 2005; Sanderson et al., 2000). Gejala penyakit Ganoderma yang muncul di tanah gambut pun tidak hanya busuk pangkal batang tetapi juga busuk pangkal atas (upper stem rot) (Susanto et al., 2008).

PENYEBAB PENYAKIT

Penyebab BPB,  Abadi (1987) menyatakan bahwa penyebab BPB di Indonesia, adalah G. boninense. Sedangkan Susanto & Huan (2010) selain G. boninense juga ditemukan G. zonatum di perkebunan kelapa sawit lahan gambut, serta patut diduga untuk daerah Papua ditemukan G. australe yang menyerang kelapa sawit (Susanto, 2011).

Ganoderma boninense tergolong ke dalam filum Basidiomycota dan famili Ganodermataceae (Alexopoulus et al.,1996). Jamur G. boninense mempunyai basidiokarp yang sangat bervariasi ; ada yang dimidiate atau stipitate, ada yang bertangkai atau tidak, tumbuh horizontal atau vertikal, ada yang rata atau mengembung, dan ada yang terbentuk lingkaran konsentris.

PENGENDALIAN

A. Pembibitan

Menggunakan tanah bebas Ganoderma dengan cara mengayak tanah sebagai media tanam atau tandan kosong kelapa sawit sebanyak 400 kg per lubang per tahun dan Trichoderma sebanyak 400 gram per lubang.

B. Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

  1. Sanitasi tanaman terinfeksi dengan cara membuang bole dan akar mencacah dan membakar beserta bagian atas tanaman
  2. Menyisip tanaman dengan lubang tanam besar dengan ukuran panjang 3 meter, lebar 3 meter dengan kedalaman 0,8 meter. Pada lubang tanam diaplikasi bahan organik atau tandan kosong kelapa sawit sebanyak 400 kg per lubang per tahun
  3. Pemberian  Trichoderma sebanyak 150 – 300 gram per lubang/tanaman

C. Tanaman Menghasilkan (TM)

  1. Sanitasi tanaman terinfeksi dengan cara membuang bole dan akar mencacah dan membakar beserta bagian atas tanaman. Membuat lubang sanitasi yang mengeluarkan bole dan akar terinfeksi dengan ukuran 2 x 2 meter.
  2. Apabila kejadian penyakit masih di bawah 5% dan untuk gejala penyakit dengan infeksi masih pada stadium awal dilakukan pembedahan dan pembumbunan. Pembedahan dilakukan sampai bebas dari jaringan terinfeksi yang diikuti aplikasi fungisida.
  3. Pemberian  agen antagonis Trichoderma sebanyak 1 kg per pohon. Pembumbunan dilakukan dengan ukuran diameter atas 1,4 meter dan bawah 2 meter dengan ketinggian 0,7 meter.
  4. Membuat parit isolasi secara individual atau kelompok. Parit isolasi individual dibuat dengan ukuran 4 x 4 meter.

Tentang Kami

Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu merupakan OPD dilingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Bengkulu...
Baca selengkapnya

Follow Us

Alamat

Jl. Pembangunan No. 19, Pd Harapan - Kota Bengkulu 38223
Telp: Telp. (0736) 21410-21721
Fax: (0736) 21017
Email: dtphp.bengkuluprov@gmail.com